Belajar Fotografi dari Nol
Tuesday, 23 February 2010 15:41
Berbicara masalah fotografi, tidak hanya berbicara masalah kecanggihan kamera tetapi juga berbicara masalah keahlian. Kamera bagus belum tentu bisa menghasilkan gambar yang bagus, Kemampuan mengambil gambar juga berhubungan erat dengan perasaan.
Prinsip belajar fotografi
Learning by doing adalah belajar cara terbaik, keep jepret, ...jgn malu...nanti skill fotonya keasah sendiri… Jangan terlalu bergantung pada teori, kalo kebanyakan teori malah puyeng. Yang perlu diasah adalah "feeling & klik ".
kunci foto bagus tuh di hati...yang penting happy dulu ketika sedang ambil gambarnya...baru deh pikirin shutter,aparture,asa-dan teori yang lain
Foto yang bagus itu seperti apa?
Foto bagus adalah foto yang berisi pesan, pesan harus jelas, tegas dan efektif. Selain bagus foto juga harus “wah” alias luar biasa, ketika orang melihat akan langsung terpukau dan berkata “It’s amazing”, “woooow” atau “mantap”. Karena foto memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada yang melihatnya, seperti kata pepatah picture may say a thousand words.
Kapan waktu yang tepat untuk memoto?
Untuk mengambil gambar, perlu diketahui waktu yang tepat untuk mengabil gambar sesuai dengan yang kita inginkan:
- jam 6 : Sunrise : Cahaya renyah, keemasan. Pas untuk subjek-subjek menghadap timur.
- jam 10 – 14 : Tengah hari : tidak cocok untuk pemandangan dan motret orang, tetapi bagus untuk motret gedung-gedung dan monumen. Warna-warna bangunan dan detailnya terekam sangat baik.
- jam 14 – 16 : Sore hari : Langit biru dengan polarizer.
- jam 16 – 18 : Senja hari : Cahaya yang hangat, keemasan. Pas untuk subjek-subjek menghadap barat. Waktu terbaik untuk landscape dan orang, khususnya satu jam sebelum sunset.
- jam 18 – 18.30 : Sunset : Langit yang indah, mulai 10 menit sebelum sunset sampai 10 menit sesudahnya.
- jam 18.30 – 19.30 : Magrib : Foto malam yang indah, lampu-lampu sudah bernyalaan sedangkan langit masih nampak keunguan.
Apa itu Asa, Iso, Diafragma bla..bla..blaa..
yang pertama kita tahu sebenarnya bukan itu semua, karena pasti akan bikin pusing, walaupun kalau tahu itu lebih baik. yang terpenting adalah mengasah perasaan kita pada saat menemukan momen-momen yang perlu diabadikan ataupun pada saat mengambil gambar.
kita tidak perlu mengukur berapa jarak kamera dengan objek, berapa perbesaran yang tepat, berapa ISO yang digunakan ataupun aturan-aturan lainnya. Apalagi sampai-sampai menggunakan rumus untuk mengukur jarak. pake rumus? repotnya lg hrs bw kalkulator ngitungnya belum selesai, modelnya sudah kabur :D.
untuk mengasah rasa,
sering-sering menikmati foto-foto bagus di Internet.
untuk menguji rasa,
sering-sering hunting bareng, dan bandingkan hasilnya dengan fotografer lain,
akan terbersit dalam hati," angle-nya dia bagus, kok aku gak kepikirannya yak?"
Kesimpulannya adalah perbanyaklah mengasah perasaan untuk menjiwai fotografi.
Referensi; dari berbagai sumber

| < Prev | Next > |
|---|
